Kamis, 27 Desember 2012

Aku,Manusia dari Dunia Doraemon dan Dunia Invisible

Ada dunia di mana orang-orang tidak akan pernah tahu dan rasakan. Bukan. Ini bukan dunia lain yang kayak di tipi-tipi. Ini dunia milik kami. Aku dan seseorang dari dunia doraemon. Untuk jangka waktu beberapa lama kami terbuai di dalamnya. Kami lupa bahwa ada dunia nyata yang sebenarnya sedang kami tinggali.

Dalam dunia kami,sebut saja dunia invisible,hanya kami yang tau apa yang sedang terjadi. Segala macam atmosfer yang terbentuk,kami lah penciptanya dan kami lah penyeimbangnya. Kami bisa saling jadi oksigen ketika salah satu sedang sesak. Kami bisa saling menjadi angin ketika salah satu sedang panas. Kami bisa jadi apapun yang kami inginkan karena hanya kami yang tahu.

Sayangnya, apa yang terjadi di dunia invisible tidak dapat diaplikasikan di dunia nyata. Ya, kami dan anda semua hidup di bawah langit yang sama, di atas tanah yang sama pula. Tapi sekali lagi, kami punya dunia invisible yang hanya kami yang tahu. Karenanya,ketika kami ada di dunia yang sama dengan anda, sikap kami akan berubah. Kami,atau mungkin sebenarnya salah satu dari kami tidak mau anda tau tentang dunia invisible kami. Dunia kami itu seperti ini : Apa yang hati rasakan, otak pikirkan, dan mulut ingin ucapkan, jarilah yang menginternalisasikannya dalam bentuk tulisan. Karena ini dunia invisible, maka tulisan itu hanya kami berdua saja yang bisa baca.

Ketika anda telah memasuki dunia invisible kami,dapat dipastikan akan sulit keluar. Sekarang,aku yang terjebak di dalam dunia invisible sendirian. Sepi rasanya dunia invisible tanpa seseorang dari dunia doraemon itu. Aku merindukan sosoknya. Entah apa yang membuat dia tiba-tiba menghilang dari dunia invisible. Mungkin dulu dia sedang bermimpi berada di dunia invisible,aku menjadi bagian dari mimpinya yang memang invisible,kemudian sekarang dia telah terbangun dari mimpinya. Mungkin juga sebenarnya dunia invisible sebenarnya nyata baginya,aku juga nyata,tapi dia lupa jalan menuju dunia invisible. Ahh..itu perkiraan ku saja. Di mana pun kamu berada wahai manusia dari dunia doraemon,aku masih menunggu. Kembalilah ke dunia invisible kapan pun. Kamu akan selalu bisa menemukanku di sana :)



NB : Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan tokoh,tempat,dan waktu adalah murni ketidaksengajaan. Dan ini bukan curhatan ya...

Kamis, 15 November 2012

Kamu dan Asap Rokok

Kamu seperti asap rokok. Membuatku sesak ketika berada di sekelilingmu. Bahkan hanya mendengar suaramu dari kejauhan saja sudah membuat otakku kehilangan separuh daya responnya. Mendengar langkah mu yang semakin dekat, membuat hormon adrenalinku meningkat berlipat-lipat. Bahkan untuk sekedar mengucap 'hai' aku butuh tenaga ekstra dan keberanian yang luar biasa.

Aku masih ingat ketika Tuhan mempertemukan kita untuk pertama kalinya. Bukan tempat yang romantis, karena itu ruang kelas. Bukan momen yang manis karena kita akan melalui sks-sks yang membosankan bersama orang-orang yang sok tahu. Dan kamu, untuk pertama kalinya, lancang sekali menarik perhatianku. Asal kamu tahu, bukan orang sembarangan yang berhasil menarik perhatianku. Aku masih ingat segaris senyum yang kamu lemparkan padaku dari sudut kelas. Bukan senyum seperti itu yang bisa membuatku tak acuh. Sungguh sulit untuk mengacuhkan mu saat itu, dan bertambah sulit saat ini.

Kamu seperti asap rokok yang membuatku sesak setiap berada di sekelilingmu. Melihat namamu muncul dalam barisan inbox ku saja sudah membuatku tremor. Kamu membuat jantungku berdegup tak beraturan. Kamu alasanku selalu terbangun di setiap malam ku. Bukan, kamu tak pernah datang dalam mimpiku. Aku hanya menunggumu lewat cara lain kamu biasa hadir.

Aku mungki sedang jatuh cinta. Tapi aku tak ingin jatuh cinta sendiri. Bisa temani aku jatuh cinta? Jatuh cinta sendiri itu rasanya seperti hidup di tengah lautan. Bagaimana rasanya? Ya memang aku sendiri yang tau.


NB: Ini hanya cerita fiktif belaka. Apabila ada kesamaan cerita atau nama tokoh, sekali lagi ini hanya fiktif.

Kamis, 11 Oktober 2012

Elang, Namaku Aquila

Hujan. Biasanya aku suka saat hujan. Aroma air yang bercampur tanah, meyegarkan. Lain dengan kali ini. Aku merasa hujan sangat tidak sopan padaku. Ia datang tanpa pertanda. Setelah ia menghilang selama lebih dari dua ratus hari. Fyi, saat ini aku masih di halte. Bukan berteduh, aku sedang marah pada hujan. Aku tidak ingin bersentuhan dengan tetesannya.

Aku sendirian. Memandang cemberut ke arah titik-titik air yang kian deras. Itu yang kusadari. Sampai aku mendengar ada suara yang aku yakin bukan suaraku. Ini suara lelaki. Dan benar saja. Di sebelahku ternyata sudah berdiri seorang lelaki yang lebih tinggi sejengkal dariku. Dia nampak kesal dengan tablet hitamnya.

Untuk beberapa waktu, aku tidak peduli lagi dengan hujan yang terus mengguyur ibu kota provinsi ini. Aku menikmati momen mencuri-curi pandang ini. Aku asyik mengamati lelaki di sebelahku ini melalui sudut mataku. Tidak butuh waktu lama buatku merekam setiap lekuk wajahnya. Wajahnya yang tirus, mata cekungnya, alisnya hitam dan tebal, oh bahkan bulu matanya lentik. "Oh, Tuhan. Lelaki ini tampannya sungguh tidak sopan," batinku dalam hati.

Tak tahu sudah berapa lama kami berada dalam atmosfer seperti ini. Aku yakin, lelaki berbaju hitam ini sudah sadar kuperhatikan sedari tadi. Entah karena risih atau apa akhirnya dia menoleh ke arahku. Ya, dia benar-benar melihatku. Hanya ada kami berdua di sini. Aku bisa merasakan pandangan mata elangnya menusuk jauh menembus retinaku. Seketika aku merasa seperti seekor anak ayam tak berdaya yang sedang dalam incaran elang.

"Kedinginan?" tanyanya singkat.
Ingin rasanya aku menjawab. "Ya, aku bahkan sudah beku oleh tatapanmu."
Ternyata otakku lebih waras dari yang kuduga. Aku mendapati diriku hanya tersenyum. Harapanku adalah ini senyuman termanisku.

"Namaku Elang," ujarnya sambil menjulurkan tangan.
Aku ragu untuk menjabatnya. Namun akhirnya kuputuskan untuk melakukannya. Hanya saja mulutku seakan terkunci. Aku hanya tersenyum. Lagi-lagi hanya itu yang bisa kulakukan. Suaraku seakan tertahan di tenggorokan.

"Sudah lama duduk di sini?" tanyanya lagi, seolah tidak puas dengan dua senyuman yang kuberikan.
"Lumayan," jawabku singkat. Kali ini aku berhasil bersuara. Semoga saja suaraku mengimbangi kemerduan suara Elang.

Pantas saja namanya Elang. Seimbang dengan tatapannya yang tajam. Aku suka caranya menatapkuku tadi. Tajam dan hangat. Cukup membuatku tidak menggigil di bawah pelukan udara dingin musim hujan.

Sepertinya aku salah. Aku sangat suka hujan kali ini. Karena ia membawaku bertemu Elang. Sayang, saat kami berpisah aku belum menyebutkan namaku. Berharap Elang masih mengingatku ketika suatu saat nanti kami bertemu. Hujan, lewat deraimu tolong sampaikan pada Elang bahwa namaku Aquila.

:)

Minggu, 07 Oktober 2012

Gerimis Membawa Aromamu Memelukku


Kamu. Lelaki yang beberapa minggu ini membuatku semangat kuliah. Lelaki yang senyumnya selalu terkembang. Lelaki dengan tawa renyah yang ingin selalu ku dengar. Lelaki yang  wajahnya selalu ingin kujumpai. Malam ini, gerimis membawa aromamu memelukku. Sebenarnya, bukan aroma mu yang kuharapkan. Tetapi aku tak ada hak untuk berharap lebih.

Lelaki berbaju hitam. Begitulah aku mengingatmu. Baju itu bukan baju yang kau kenakan saat pertama kali bertemu. Hanya saja aku lebih suka baju itu dari sekian banyak baju yang pernah kau pakai. Warnanya sangat cocok dengan kulit terangmu. Alismu yang tebal dan hitam, mata cekung yang tajam, semua menyatu indah dengan kemeja hitam lengan panjang yang kau gulung sampai siku.

Sayang, kita tak sempat bertegur sapa. Hanya sesekali saja mata kita beradu. Dan saling menukar senyum. Entah apa yang kau rasakan di ujung sana. Yang jelas, aku sedang menahan diri untuk tak terhipnotis. Asal kau tau, senyummu membuatku lupa bernapas. Mungkin memang aku yang lebay. Tapi aku tak peduli. Aku sedang jatuh cinta.

Terima kasih telah menjadi alasanku jatuh cinta. Maaf aku tak meminta izinmu. Aku juga tak tahu mengapa kamu orangnya. Sudah setahun lebih kita berada dalam satu naungan almamater yang sama. Hanya saja baru saat ini aku mulai memperhatikanmu. Kata orang, otak hanya menyimpan hal-hal penting saja. Sepertinya kali ini kamu termasuk salah satunya.

Di luar gerimis masih mengiringiku melukis wajahmu dalam kanvas hatiku. Mungkin kamu sudah terlelap saat ini. Kalau boleh berharap, ada aku dalam serentetan mimpi indahmu. Selamat tidur, ganteng. Besok kita ada kuliah lhoo.. :')

- Mell -

Senin, 17 September 2012

Membuka Cakrawala Mengenai Epidemiologi


          Baru-baru ini saya dibuat penasaran dengan satu kata ini. Epidemiologi. Kata ini baru saya dengar ketika mulai menyandang status mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat. Ini tahun kedua saya menjadi seorang calon Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM). rasa penasaran saya tentang epidemiologi pun telah membuncah tak terbendung lagi. Akhirnya saya meng-googling terkait epidemiologi. Berikut adalah informasi yang saya dapat.

          Definisi epidemiologi sangat beragam. Walaupun intinya tetap sama. Pertama kita lihat dari asal katanya. Epidemiologi berasal dari kata EPI (pada atau tentang) ; DEMOS (penduduk) ; LOGOS (ilmu). Jadi epidemiologi menurut asal katanya yaitu ilmu tentang penduduk. Namun saat ini pengertian tersebut berkembang menjadi ilmu tentang penyakit.

          Epidemiologi menurut beberapa epidemiologyst dunia adalah sebagai berikut :
a. Greenwood (1934)
    Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian yang mengenal kelompok (herd) penduduk.
b. Brian Mac Mahon (1970)
    Epidemiologi adalah studi tentang penyebaran dan penyebab frekuensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam itu.
c. Wade Hampton Forst (1972)
    Epidemiologi adalah suatu pengetahuan tentang fenomena massal (mass phenomenon) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah (natural history).
d. Moris (1964)
    Epidemiologi merupakan pengetahuan tentang sehat dan sakit dari suatu penduduk.
e. Robert H. Fletcher (1991)
    Epidemiologi adalah disiplin riset yang membahas tentang distribusi dan determinan penyakit dalam populasi.

          Masih banyak lagi definisi epidemiologi dari para epidemiologyst dunia. Yang saya tulis di sini hanyalah sebagian kecil saja. Masih tentang definisi epidemiologi juga, kali ini berasal dari dua institusi yang menangani masalah kesehatan dunia, yakni :
a. Centre of Disease Control (CDC) 2002
    Epidemiologi merupakan studi yang mempelajari distribusi dan determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi serta penerapannya untuk pengendalian masalah-masalah kesehatan.
b. World Health Organization (WHO)
    Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan kesehatan yang berkaitan dengan  kejadian di populasi dan aplikasi dari studi untuk pemecahan masalah kesehatan.

          Sepertinya sudah cukup ya pembahasan mengenai definisi epidemiologi. Dengan beragam definisi seperti ini, cakrawala pengetahuan saya sudah sedikit tebuka. Semoga postingan saya kali ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Mungkin di lain kesempatan saya dapat membahas terkait epidemiologi atau ilmu-ilmu lain yang lebih mendalam lagi. Oh ya, satu lagi. Saya tidak hanya menemukan beragam definisi tersebut. Dalam sebuah tesis yang disusun oleh seorang mahasiswa dari Karolinska Institutet bernama Eva Lenarรถ, terdapat istilah mengenai epidemiologi yaitu "The core science of Public Health is epidemiology". Istilah tersebut ia kutib dari bukunya Rothman K.J yang berjudul Epidemiology an introduction yang kurang lebih artinya adalah ilmu pokok dari kesehatan masyarakat adalah epidemiologi.

Selasa, 24 Juli 2012

Teruntuk yang Kurindu


Apakah itu cinta?
Apakah itu rindu?
Akankah aku kamu menjadi kita?
Ataukah hanya akan begini selalu?
Aku terhenyak dalam pertanyaanku
Aku tersadar dalam ruang dimensi pikirku
Aku tersesat dalam lingkup yang tak mampu kejelasakan
Aku terdampar dalam pantai mimpi tak bertuan
Sesaat ku melihat cahaya
Tapi menghilang
Sesaat ku melihat sosok mu
Tapi lenyap
Mungkin ini bukan cinta
Mungkin hanya aku yang merindu
Mungkin aku akan jadi aku
Mungkin kamu akan tetap kamu
Dan kita tak pernah ada
Selamanya

Senin, 16 Juli 2012

Permohonan Bodoh Si Dungu


Tuhan, Kau ingin aku bahagia bukan?
Takdirkanlah ia untukku
Agar aku bisa bahagia
Dengannya yang selalu kurindu
Tuhan, Kau ingin aku bahagia bukan?
Sampaikan cintaku pada lelaki itu
Lelaki yang tak pernah tahu
Kalau kehadirannya selalu kurindu
Tuhan, Kau ingin aku bahagia bukan?
Bukalah hatinya hanya untuk diriku
Wanita yang akan bahagiakan dia
Sepanjang sisa usiaku
Tuhan, Kau ingin aku bahagia bukan?
Izinkan aku menyampaikan sebuah pesan
Untuknya yang namanya selalu ada dalam doaku
Yang senyumnya selalu membuat jantungku berdetak tak beraturan

Tiga Puluh Menit dalam Sajak Rindu


Aku ingin merindukanmu
Walau hanya melalui bayanganmu
Aku ingin merindukanmu
Walau bermil – mil jauhnya darimu
Aku ingin merindukanmu
Walau dalam mimpiku

Sekejam itukah cinta?
Tak bisa merindu walau aku mau
Tak bisa menyentuh walau kutahu jauh
Tak bisa berkata walau kita bisa

Sekali lagi aku merindukanmu
Ketika kata demi kata mulai tercipta untukmu
Sekali lagi aku merindukanmu
Ketika tak mampu lagi aku merengkuhmu
Sekali lagi aku merindukanmu
Ketika malam ini dirimu hidup dalam sajak-sajak ku

Jam Pertama sebelum Kapal Berlayar


Bagai kapal tak bernahkoda
Ini rasanya tak punya cinta
Tidak, aku punya
Hanya tak tahu untuk siapa

Bagai kapal tak bernahkoda
Itulah hidup tanpa cinta
Tidak, aku punya
Hanya tak tahu dari mana

Bagai kapal tak bernahkoda
Itulah hidup jika sebatang kara
Tidak, aku berdua
Dengan bayanganku yang selalu setia

Selasa, 15 Mei 2012

Tengah Malam di Bulan Pertama



Oleh hujan
Demi deraimu yang menghentak bumi
Aku mencintai lelaki ini
Lelaki yang selalu siap dengan bahunya
Ketika aku jatuh
Lelaki yang pelukannya selalu hangat
Ketika duniaku terasa dingin
Demi deraimu yang menghentak bumi
Aku mencintai lelaki ini
Lelaki dengan dada bidang
Lelaki dengan hati lapang
Lelaki dengan senyum yang selalu terkembang
Demi deraimu yang menghentak bumi
Aku mencintai lelaki ini
Lelaki yang akan melakukan apapun untuk melindungiku
Lelaki yang akan menyerahkan hidupnya untuk seulas senyumku
Lelaki yang aku sebut papa
Lelaki yang dia sebut ayah
Lelaki yang mereka sebut abi
Lelaki yang kamu sebut bapak

Senja Sunyi Kami

Pagi masih malu-malu
Siang masih jauh berjalan
Apalagi malam
Ia masih di belahan bumi lain
Kita terdiam di bawah pohon mangga
Di depan gedung kuning
Di antara gerimis senja
Kita terdiam dengan ponsel masing - masing
Dengan mata tak bertatap
Dengan mulut yang setia terkatup

Kita terdiam dalam deru napas rindu
Sesaat mata beradu
lewat sudut diamnya
Terkulum seulas bentuk bibir
Mereka bilang itu senyum
Dalam diam ku mengadu
Pada rindu yang semu
Pada bayangmu yang menatapku
Mereka lebih tau
Daripada kamu
Aku pergi dulu

Senin, 27 Februari 2012

Curhat Tengah Malem

Kali ini gue mau cerita tentang adek gue. Adek gue satu-satunya. Nggak perlu gue omongin kan jenis kelaminnya. Kayak nya gue juga nggak perlu ceritain siapa namanya. Kalo gue bilang dia cewek dan namanya Intan, anggep aja gue khilaf.

Gue sama adek gue selisih umurnya 3tahun. Jadi setelah gue lahir, 3tahun kemudian adek gue lahir. Ketika itu umur gue 3tahun. Sejak dia lahir, automatically gelar gue sebagai anak tunggal lenyap berganti dengan gelar kakak. Entah kenapa dulu gue selalu excited kalo papa mau ngejengukin mama sama adek gue d rumah sakit. Yang paling gue inget adalah waktu itu ujan. Papa belum punya mobil waktu itu. Alhasil gue dan papa berjuang melawan ujan naek taxi. Gue sayang banget sama adek gue yang baru lahir itu.

15tahun berlalu. Adek gue dan gue tumbuh jadi remaja. Dia baru aja jadi anak sma. Gue baru aja jadi mahasiswa. Karakteristik kita mulai nampak. Gue punya pribadi yang lembek. Gampang diombang-ambingkan orang. Tapi gue kuat. Gue jarang banget galau. Gue lebih kuat ngadepin suatu masalah. Mungkin karena gue adalah seorang kakak. Gue nggak punya tempat bergantung. Ketika gue ada masalah dan ortu nggak bisa bantu,gue harus bisa berdiri di kaki gue sendiri. Gue selesaiin dengan tangan dan cara gue sendiri. Beda sama adek gue. Dia punya pribadi lebih keras dari gue tapi dia rapuh. Dia sering banget galau. Dia nggak bisa dapet masalah berat. Mungkin karena dia anak bungsu. Ketika dia punya masalah dan ortu nggak ngerti harus gimana, dia punya gue. Seenggaknya walaupun gue bukan kakak yang baik,gue selalu berusaha ngertiin dia.

Gue dan adek gue tumbuh dalam keluarga harmonis. Ribut-ribut dikit wajar dong. Belakangan keadaan makin memanas. Gue sibuk,adek gue sibuk. Kita sama-sama sibuk. Ketika dia punya masalah gue bantu dan dia masih nggak ngerti,gue emosi. Gue jadi sering bentak-bentak dia. Dia jadi sering nangis. Gue kasihan. Tapi jujur gue pengen dia mandiri. Gue pengen dia lebih kuat. Gue nggak pengen dia rapuh. Gue dulu bisa sendiri. Gue pengen dia juga gitu. Karena gue rasa dia terlalu bergantung sama orang lain.

"Mbak sayang kamu dek." Gue pengen ngomong langsung tapi gue terlalu pengecut. Maklum, golongan darah B emang gengsinya tinggi. Gue pengen dia mandiri. Papa+mama makin tua. Gue juga nggak selamanya selalu ada ketika dia butuh. Gue tau cara gue terlalu kejam. Gue cuma nggak tau harus gimana lagi. Yang gue tau, gue sayang adek gue. Gimanapun dia,dia adek gue.

"Maaf ya dek, mbak galak banget sama adek. Mbak mau adek lebih mandiri. Lebih kuat dari karang."

Jumat, 10 Februari 2012

Masih Pantaskah Mimpiku Dihina ?

Siang ini terik sekali. Panasnya sampai terasa di sekujur tubuhku. Aku mematung di depan sebuah bangunan. Bangunan megah berwarna putih. Gedung putih ku menyebutnya. Senyumku masih tertahan di ujung bibir. Aku senang berdiri di sini. Masih seperti mimpi rasanya berdiri di tempatku sekarang.

10tahun lalu aku mulai merajut mimpi. Aku sering bermimpi akan berdiri di sebuah gedung megah berwarna putih. Memang baru 9tahun usiaku saat itu. Tapi justru di umur itulah mimpiku di mulai.

Akulah sang rakyat jelata. Akulah yang kalian sebut gila di usiaku yang ke-9. Akulah yang kalian hina selama 10tahun lamanya. Sekarang, setelah 10tahun, lihatlah aku. Seorang anak yang hidup hanya karena mimpi nya yang selalu dihina. Kini mampu membuktikan mimpinya bukan sekedar mimpi. Mimpinya tumbuh menjadi motivasi. Dan motivasi itulah yang membuatnya terus berlari. Mimpinya kini telah menjadi nyata. Masih pantaskah mimpiku dihina?