Kamis, 06 Juni 2013

Obrolan Sedikit Dewasa

Apa yang terlintas di benak kalian kalau dengar kata pacar? Seseorang -yang sampai tulisan ini di posting masih berstatus teman- bertanya tentang pacar. Ya, dia bertanya definisi pacar menurut pandangan ku, dan urgensi pacar itu sendiri buat aku. Agak kaget juga sih dengan pertanyaannya.

Jujur.
Aku nggak pernah memikirkan masalah ini. Walaupun sampai saat tulisan ini resmi dipublikasikan Aku masih jomblo, which is artinya aku nggak punya pacar, tapi aku nggak ambil pusing. Kalau boleh curhat, saya memang orangnya pemilih. Itulah kenapa kadang-kadang cowok-cowok yang mendekat suka kabur sebelum berjuang. Ha-Ha-Ha. Aku sih ketawa aja ya kalau ada cowok kayak gitu.

Oke. Balik ke topik awal. Pacar. Menurutku sih dia itu orang yang harus berani berkomitmen. Karena memang nggak mungkin juga aku menikah di usia yang masih muda belia seperti ini :p Jadi aku lebih memilih buat pacaran dulu ya. Toh, orang tua juga mengijinkan. Hanya saja orangnya siapa masih dalam proses audisi. Sudah bilang kan kalau aku orangnya pemilih. Tapi karena aku ini cewek, jadi ya cuma bisa memilih ketika sudah dipilih. Bukan sok jual mahal sih ya. Tapi ya memang sebagai cewek harus bisa menjaga harkat dan martabat sebagai cewek. Aku nggak suka gonta-ganti pacar. Sebagai anak pertama, aku berkewajiban memberikan contoh yang baik dan benar buat adikku. Kebetulan dia juga cewek, dan usianya nggak terpaut jauh sama aku. Aku sih nggak mau bilang kalau kita selisih 3 taun. Ya nggak etis aja gitu kalau aku gonta-ganti pacar gitu. Nanti kalau adikku ikut-ikutan gimana? Terus pasti yang kena jelek kan juga orang tua.

Dari kecil aku selalu pengen punya pacar (ya pacar dulu ya. kalau suami masih terlalu lama. tapi kata "pacar" juga bisa di-replace kok sama kata "suami" :p) yang kayak Papa. Papa itu satu-satunya figur lelaki yang jadi panutanku. Kebetulan, aku punya Papa yang bisa dan patut dijadikan panutan. Nggak perlu dijelasin juga sih ya Papa orangnya kayak gimana. Kalau mau tau ya kenalan aja sendiri. Intinya, sampai saat ini belum ada yang memberanikan diri buat kenalan secara personal sama Papa. Hahaha...

Kalau urgensi pacar? Ya penting sih. Pacar kan berarti statusnya jelas. Ketimbang kakak-adek an atau HTS an atau apalah itu. Aku juga nggak mau menikah kayak beli kucing dalam karung. Jadi ya pacaran bisa jadi ajang saling mengenal, mendalami sifat dan karakter masing-masing. Kalau pun di jalan menemukan ketidak-cocokan, ya nggak masalah. Masih bisa berteman. Tapi ya harapannya kalau suatu saat nanti aku punya pacar, ya dia juga yang nanti ketika 50 tahun lagi minum teh di teras rumah sama aku sambil liat cucu-cucu main di taman. Muehehehe...

Kedua petanyaan tadi belum aku jawab ke orang nya langsung. Well, aku sendiri juga bingung mau jawab apa waktu itu. Karena aku selalu cuek dan nggak pernah memikirkan itu semua. Yang nanya juga ditanya balik nggak jawab.

Pacar bukan orang yang selalu bisa nganter-nganter ya. Karena pacar bukan supir. Pacar-yang nantinya akan jadi suami- dia harus punya pandangan dan cara berpikir yang bisa membimbing aku ke arah yang lebih baik. Bagaimanapun juga, sekuat apapun aku, setangguh apapun aku, sepandai-pandainya aku, sehebat apapun aku, aku tetap butuh sosok lelaki yang bisa membimbing aku. Dan aku pun juga sadar sesadar-sadarnya, kalau nantinya aku jadi seorang istri, aku harus ikut apa kata suami. Kalau kata seseorang yang yakin anak pertama itu keras kepala, ya sedikit sepakat sih. Aku pun sedikit keras kepala. Tapi ya nggak sekeras kepala itu juga kalau imam aku nantinya tegas dan punya prinsip yang bisa aku jadikan prinsip juga.


Tidak ada komentar: