Hujan. Biasanya aku suka saat hujan. Aroma air yang bercampur tanah, meyegarkan. Lain dengan kali ini. Aku merasa hujan sangat tidak sopan padaku. Ia datang tanpa pertanda. Setelah ia menghilang selama lebih dari dua ratus hari. Fyi, saat ini aku masih di halte. Bukan berteduh, aku sedang marah pada hujan. Aku tidak ingin bersentuhan dengan tetesannya.
Aku sendirian. Memandang cemberut ke arah titik-titik air yang kian deras. Itu yang kusadari. Sampai aku mendengar ada suara yang aku yakin bukan suaraku. Ini suara lelaki. Dan benar saja. Di sebelahku ternyata sudah berdiri seorang lelaki yang lebih tinggi sejengkal dariku. Dia nampak kesal dengan tablet hitamnya.
Untuk beberapa waktu, aku tidak peduli lagi dengan hujan yang terus mengguyur ibu kota provinsi ini. Aku menikmati momen mencuri-curi pandang ini. Aku asyik mengamati lelaki di sebelahku ini melalui sudut mataku. Tidak butuh waktu lama buatku merekam setiap lekuk wajahnya. Wajahnya yang tirus, mata cekungnya, alisnya hitam dan tebal, oh bahkan bulu matanya lentik. "Oh, Tuhan. Lelaki ini tampannya sungguh tidak sopan," batinku dalam hati.
Tak tahu sudah berapa lama kami berada dalam atmosfer seperti ini. Aku yakin, lelaki berbaju hitam ini sudah sadar kuperhatikan sedari tadi. Entah karena risih atau apa akhirnya dia menoleh ke arahku. Ya, dia benar-benar melihatku. Hanya ada kami berdua di sini. Aku bisa merasakan pandangan mata elangnya menusuk jauh menembus retinaku. Seketika aku merasa seperti seekor anak ayam tak berdaya yang sedang dalam incaran elang.
"Kedinginan?" tanyanya singkat.
Ingin rasanya aku menjawab. "Ya, aku bahkan sudah beku oleh tatapanmu."
Ternyata otakku lebih waras dari yang kuduga. Aku mendapati diriku hanya tersenyum. Harapanku adalah ini senyuman termanisku.
"Namaku Elang," ujarnya sambil menjulurkan tangan.
Aku ragu untuk menjabatnya. Namun akhirnya kuputuskan untuk melakukannya. Hanya saja mulutku seakan terkunci. Aku hanya tersenyum. Lagi-lagi hanya itu yang bisa kulakukan. Suaraku seakan tertahan di tenggorokan.
"Sudah lama duduk di sini?" tanyanya lagi, seolah tidak puas dengan dua senyuman yang kuberikan.
"Lumayan," jawabku singkat. Kali ini aku berhasil bersuara. Semoga saja suaraku mengimbangi kemerduan suara Elang.
Pantas saja namanya Elang. Seimbang dengan tatapannya yang tajam. Aku suka caranya menatapkuku tadi. Tajam dan hangat. Cukup membuatku tidak menggigil di bawah pelukan udara dingin musim hujan.
Sepertinya aku salah. Aku sangat suka hujan kali ini. Karena ia membawaku bertemu Elang. Sayang, saat kami berpisah aku belum menyebutkan namaku. Berharap Elang masih mengingatku ketika suatu saat nanti kami bertemu. Hujan, lewat deraimu tolong sampaikan pada Elang bahwa namaku Aquila.
:)