Kali ini gue mau cerita tentang adek gue. Adek gue satu-satunya. Nggak perlu gue omongin kan jenis kelaminnya. Kayak nya gue juga nggak perlu ceritain siapa namanya. Kalo gue bilang dia cewek dan namanya Intan, anggep aja gue khilaf.
Gue sama adek gue selisih umurnya 3tahun. Jadi setelah gue lahir, 3tahun kemudian adek gue lahir. Ketika itu umur gue 3tahun. Sejak dia lahir, automatically gelar gue sebagai anak tunggal lenyap berganti dengan gelar kakak. Entah kenapa dulu gue selalu excited kalo papa mau ngejengukin mama sama adek gue d rumah sakit. Yang paling gue inget adalah waktu itu ujan. Papa belum punya mobil waktu itu. Alhasil gue dan papa berjuang melawan ujan naek taxi. Gue sayang banget sama adek gue yang baru lahir itu.
15tahun berlalu. Adek gue dan gue tumbuh jadi remaja. Dia baru aja jadi anak sma. Gue baru aja jadi mahasiswa. Karakteristik kita mulai nampak. Gue punya pribadi yang lembek. Gampang diombang-ambingkan orang. Tapi gue kuat. Gue jarang banget galau. Gue lebih kuat ngadepin suatu masalah. Mungkin karena gue adalah seorang kakak. Gue nggak punya tempat bergantung. Ketika gue ada masalah dan ortu nggak bisa bantu,gue harus bisa berdiri di kaki gue sendiri. Gue selesaiin dengan tangan dan cara gue sendiri. Beda sama adek gue. Dia punya pribadi lebih keras dari gue tapi dia rapuh. Dia sering banget galau. Dia nggak bisa dapet masalah berat. Mungkin karena dia anak bungsu. Ketika dia punya masalah dan ortu nggak ngerti harus gimana, dia punya gue. Seenggaknya walaupun gue bukan kakak yang baik,gue selalu berusaha ngertiin dia.
Gue dan adek gue tumbuh dalam keluarga harmonis. Ribut-ribut dikit wajar dong. Belakangan keadaan makin memanas. Gue sibuk,adek gue sibuk. Kita sama-sama sibuk. Ketika dia punya masalah gue bantu dan dia masih nggak ngerti,gue emosi. Gue jadi sering bentak-bentak dia. Dia jadi sering nangis. Gue kasihan. Tapi jujur gue pengen dia mandiri. Gue pengen dia lebih kuat. Gue nggak pengen dia rapuh. Gue dulu bisa sendiri. Gue pengen dia juga gitu. Karena gue rasa dia terlalu bergantung sama orang lain.
"Mbak sayang kamu dek." Gue pengen ngomong langsung tapi gue terlalu pengecut. Maklum, golongan darah B emang gengsinya tinggi. Gue pengen dia mandiri. Papa+mama makin tua. Gue juga nggak selamanya selalu ada ketika dia butuh. Gue tau cara gue terlalu kejam. Gue cuma nggak tau harus gimana lagi. Yang gue tau, gue sayang adek gue. Gimanapun dia,dia adek gue.
"Maaf ya dek, mbak galak banget sama adek. Mbak mau adek lebih mandiri. Lebih kuat dari karang."
Senin, 27 Februari 2012
Jumat, 10 Februari 2012
Masih Pantaskah Mimpiku Dihina ?
Siang ini terik sekali. Panasnya sampai terasa di sekujur tubuhku. Aku mematung di depan sebuah bangunan. Bangunan megah berwarna putih. Gedung putih ku menyebutnya. Senyumku masih tertahan di ujung bibir. Aku senang berdiri di sini. Masih seperti mimpi rasanya berdiri di tempatku sekarang.
10tahun lalu aku mulai merajut mimpi. Aku sering bermimpi akan berdiri di sebuah gedung megah berwarna putih. Memang baru 9tahun usiaku saat itu. Tapi justru di umur itulah mimpiku di mulai.
Akulah sang rakyat jelata. Akulah yang kalian sebut gila di usiaku yang ke-9. Akulah yang kalian hina selama 10tahun lamanya. Sekarang, setelah 10tahun, lihatlah aku. Seorang anak yang hidup hanya karena mimpi nya yang selalu dihina. Kini mampu membuktikan mimpinya bukan sekedar mimpi. Mimpinya tumbuh menjadi motivasi. Dan motivasi itulah yang membuatnya terus berlari. Mimpinya kini telah menjadi nyata. Masih pantaskah mimpiku dihina?
10tahun lalu aku mulai merajut mimpi. Aku sering bermimpi akan berdiri di sebuah gedung megah berwarna putih. Memang baru 9tahun usiaku saat itu. Tapi justru di umur itulah mimpiku di mulai.
Akulah sang rakyat jelata. Akulah yang kalian sebut gila di usiaku yang ke-9. Akulah yang kalian hina selama 10tahun lamanya. Sekarang, setelah 10tahun, lihatlah aku. Seorang anak yang hidup hanya karena mimpi nya yang selalu dihina. Kini mampu membuktikan mimpinya bukan sekedar mimpi. Mimpinya tumbuh menjadi motivasi. Dan motivasi itulah yang membuatnya terus berlari. Mimpinya kini telah menjadi nyata. Masih pantaskah mimpiku dihina?
Langganan:
Komentar (Atom)