Kamu seperti asap rokok. Membuatku sesak ketika berada di sekelilingmu. Bahkan hanya mendengar suaramu dari kejauhan saja sudah membuat otakku kehilangan separuh daya responnya. Mendengar langkah mu yang semakin dekat, membuat hormon adrenalinku meningkat berlipat-lipat. Bahkan untuk sekedar mengucap 'hai' aku butuh tenaga ekstra dan keberanian yang luar biasa.
Aku masih ingat ketika Tuhan mempertemukan kita untuk pertama kalinya. Bukan tempat yang romantis, karena itu ruang kelas. Bukan momen yang manis karena kita akan melalui sks-sks yang membosankan bersama orang-orang yang sok tahu. Dan kamu, untuk pertama kalinya, lancang sekali menarik perhatianku. Asal kamu tahu, bukan orang sembarangan yang berhasil menarik perhatianku. Aku masih ingat segaris senyum yang kamu lemparkan padaku dari sudut kelas. Bukan senyum seperti itu yang bisa membuatku tak acuh. Sungguh sulit untuk mengacuhkan mu saat itu, dan bertambah sulit saat ini.
Kamu seperti asap rokok yang membuatku sesak setiap berada di sekelilingmu. Melihat namamu muncul dalam barisan inbox ku saja sudah membuatku tremor. Kamu membuat jantungku berdegup tak beraturan. Kamu alasanku selalu terbangun di setiap malam ku. Bukan, kamu tak pernah datang dalam mimpiku. Aku hanya menunggumu lewat cara lain kamu biasa hadir.
Aku mungki sedang jatuh cinta. Tapi aku tak ingin jatuh cinta sendiri. Bisa temani aku jatuh cinta? Jatuh cinta sendiri itu rasanya seperti hidup di tengah lautan. Bagaimana rasanya? Ya memang aku sendiri yang tau.
NB: Ini hanya cerita fiktif belaka. Apabila ada kesamaan cerita atau nama tokoh, sekali lagi ini hanya fiktif.