Jumat, 12 Agustus 2011

Ayah. Anakmu sedang jatuh cinta. Tak bisakah kau berikan ijin mu? Tak bisakah kau berkata, "Anak ku, cintailah cintamu" ? Tak bisakah kau tak pasang wajah seram itu pada cintaku?

Ibu. Anakmu sudah dewasa. Tak bisakah kau perlakukan aku sebagai seorang dewasa? Tak bisakah kau tak lindungiku seperti melindungi bayi? Tak bisakah kau beri aku sedikit kebebasan untuk mencinta?

Ayah, Ibu. Aku memang sedang jatuh cinta. Lihatlah pipiku yang sedang merona. Aku janji aku tetap anakmu yang akan selalu melakukan yang terbaik untuk mu.

Masalah Otak, Mata, dan Hati

Malam semakin larut. Bayang mu masih membayang di pelupuk mata. Tampak jelas memang. Sangat jelas bahkan. Tapi aku ragu. Itu dirimu yang sebenarnya. Yang juga merinduku. Atau hanya refleksi namamu yang masih tertanam di sudut ingatanku.

Sudut itu bukan sudut yang indah. Sudut itu hanya terisi satu nama. Tampak kosong dan pengap. Sudut itu sudut yang paling membosankan. Di sudut itulah tempat namamu tertanam.

Ya. Hanya sekedar itu kau di ingatanku. Mungkin kau tak perlu bersedih. Karena mataku hanya bisa melihatmu. Dan hatiku belum bisa menerima nama lain.

Boleh kau senang masalah mata. Jangan senang dulu masalah hati. Taukah kau mengapa hanya ada namamu? Bukan karena hati ku masih mengharapmu. Hanya saja ia tak mau mendapat luka seperti ketika namamu memenuhi setiap relungnya.